Saturday, 2 February 2013

Saling Mengingatkan Dalam Kebenaran N Kesabaran


TIPS

Sang Penajaga Kebaikan

Memaksimalakan produksi? Tentunya! Tapi kalo memaksimalkan amal kebaikan dan menjaganya apa sih maksudnya?
Umur, bagi manusia merupakan misteri yag hanya diketahui secara pasti oleh Sang Khalik. Tak ada yang bisa meraba dan menduga samapai kapan umur kita.
Ada hal-hal mendasar yang patut kita lakukan agar kita dapat mengoptimalkan umur dengan kebajikan. Diantaranya, bersegera menggapai ridho Allah dan mengerjakan perbuatan yang dapat mendatangkan berlipat pahala. Setelahnya adalah selalu menjaga amal kebaikan tetap murni tanpa cacat bahkan hilang. Tapi sayangnya, menjaga amal baik agar tetap berlanjut tidaklah mudah. Ada kiat dan tips tersendiri agar amal benar-benar terjaga. Sang penjaga amal tersebut adalah:
  1. Tidak melakukan keharaman, secara terang-terangan maupun sembunyi. Hindari menumpuk kebaikan laksana gunung, tapi disisi lain melakuka keharaman secara sembunyi maupun terng-terangan. Bisa jadi amal baik yang kita perbuat tak akan bernilai jika melanggar keharaman Allah. Naudzubillah min dzalik!
  2. 2.    Tidak ‘jub dan pamer. Sikap ujub biasanya melahirkan sikap meremehkan dosa-dosa kecil. Ketika sudah terjangkit ‘ujub, kita akan memandang remehnya dosa-dosa kecil jika dibanding denagn kebajikan yang telah diperbuat. Hasilnya kita akan terbiasa melakukan dosa kecil. Tapi kita akan kehilangan amal baik kita selama ini.
  3.  Menjaga hak-hak orang lain. Hindari medzalimi saudara-saudaraa kita baik menyangkut kehormatan dan hak-hak secara umum. Merampas kehormatan saudara berupa kehormatan dan materi akan menghilangkan pahala kebajikan kita kelak. Di pengadilan Allah nanti orang yang termpas haknya akan mengambil alih pahala kebaikan sang perampas hingga hak-haknya semasa di dunia terpenuhi.
  4. Tidak melakukan jariyah as suu’ (kejahatan yang terus mengalir). Kita sangat jiak kita adalah perintis perbuatan dosa. Dosa orang-orang yag mengikuti polah kita akan menjadi tanggungan kita karena telah menjadi pelopor kejelekan. Masih mending perbuatan jelek kita tak diikuti orang (meski tetap berdosa). Gimana jika ratusan bahkan jutaan orang mengikuti perbuatan kita yang penuh maksiat? Tentunya semakin berat beban dosa yng kita tanggung.

Meski begitu, melakukan perbuatan maksiat tetep dilarang lho, baik yang tidak diikuti      orang lain terlebih yang menjadikan kita perintis kejelekan. Karena keduanya sama-sama jelek. Waliyadzubillah!
(Elfata- edisi 05 volume 08 tahun 2008)

No comments:

Post a Comment